Elit 212 Manfaatkan Reuni 212 Untuk Naikkan Bargaining Politik
LamanBerita – Ketua Institut SETARA Hendardi mengungkapkan bahwa acara reuni yang dilakukan para Alumni Aksi 212 adalah gerakan politik untuk menguasai ruang publik dalam rangka menaikkan daya tawar politik kepada pemburu kekuasaan dan unjuk kekuatan kepada pemerintah.
Sebagai sebuah gerakan politik maka kontinuitas gerakan tersebut akan menjadi arena politik baru yang akan terus dibangkitkan sejalan dengan agenda-agenda politik formal kenegaraan.
“Perayaan 1 tahun aksi 212 telah menggambarkan secara nyata bahwa aksi yang digagas oleh sejumlah elite Islam politik pada 2016 lalu adalah gerakan politik. Sebagai sebuah gerakan politik maka kontinuitas gerakan ini akan menjadi arena politik baru yang akan terus dibangkitkan sejalan dengan agenda-agenda politik formal kenegaraan,” kata Hendardi lewat keterangannya, Jumat (1/12/2017).
Agenda-agenda politik formal kenegaraan yang dimaksud Hendardi tentunya agenda Pilkada 2018 dan Pileg serta Pilpres 2019. Seperti diketahui Aksi 212 sendiri adalah demonstrasi besar dalam rangka Pilkada DKI Jakarta 2017.
Hendardi mengatakan bahwa tujuan Alumni 212 menggelar reuni adalah untuk menguasai ruang publik guna menaikan posisi tawar terhadap pemerintah saat ini. Menurut dia, gerakan itu juga tidak memiliki tujuan yang jelas dalam konteks mewujudkan cita-cita nasional.
“Menguasai ruang publik (public space) adalah target para elite 212 untuk terus menaikkan daya tawar politik dengan para pemburu kekuasaan atau dengan kelompok politik yang sedang memerintah. Bagi mereka public space is politic. Jadi, meskipun gerakan ini tidak memiliki tujuan yang begitu jelas dalam konteks mewujudkan cita-cita nasional, gerakan ini akan terus dikapitalisasi,” ungkapnya
Rangkaian reuni Alumni 212 akan berlangsung dari 30 November hingga 2 Desember 2017. Reuni tersebut didahului dengan menggelar Kongres Alumni 212 di Wisma PHI, Jakarta Timur. Usai kongres, acara berikutnya adalah Maulid Agung dan Reuni Alumni 212 di Monas pada Sabtu, 2 Desember 2017.
Hendardi menyayangkan gerakan politik yang dibangun alumni 212 menggunakan pranata dan instrumen agama Islam. Menurut dia, banyak tokoh-tokoh Islam mainstream yang menganggap gerakan tersebut justru memperburuk kualitas keagamaan di Indonesia.
"Populisme agama sesungguhnya menghilangkan rasionalitas umat dalam beragama, juga menghilangkan rasionalitas warga dalam menjalankan hak politiknya," kata Hendardi.
Hendardi memprediksi, gerakan 212 secara perlahan akan kehilangan dukungan dari masyarakat. Hal tersebut disebabkan karena meningkatnya kesadaran warga untuk menjauhi praktik politisasi identitas agama untuk merengkuh dukungan politik atau menundukkan lawan-lawan politik.
Nantinya, masyarakat dinilai akan sadar bahwa gerakan itu tidak relevan menjawab tantangan kebangsaan dan kenegaraan. "Warga juga telah menyadari bahwa gerakan semacam ini membahayakan kohesi sosial bangsa yang majemuk, kecuali untuk kepentingan elit 212," kata Hendardi.
from RADAR RAKYAT http://ift.tt/2zI6muu
0 comments:
Posting Komentar