Ketika Elite 212 Beda Pandangan Tentang Tujuan Politik Aksi 212
Lamanberita – Pernyataan Ketua Setara Institute Hendardi yang menyebut Reuni 212 adalah sebuah gerakan politik ternyata diiyakan oleh pembina presidium 212 Kapitra Ampera.
Dia mengatakan 212 sebagai sebuah gerakan politik. Menurutnya, gerakan yang dilakukan ini untuk menumbuhkan kesadaran politik.
“212 adalah gerakan politik, the real politics. Saya mau katakan, kehidupan ini dilingkupi dengan kehidupan politik. Sampai Kapolri dan Panglima TNI dan dipilih oleh lembaga politik. Semua kehidupan napas kita diatur oleh politik. Bangsa ini diatur oleh orang-orang politik, kekuasaan diperebutkan dalam politik,” kata Kapitra seperti dikutip dari laman detikcom.
“Pertemuan ini, konsolidasi umat Islam agar menumbuhkan kesadaran politik umat Islam yang selama ini melupakan, memisahkan politik dengan agama,” sambungnya
Kapitra mengatakan kesadaran politik yang dimaksudnya ialah agar masyarakat berhak menentukan pemimpin mereka. Hal ini termasuk pemimpin yang ada di lingkup legislatif maupun eksekutif.
“Yang tidak dibolehkan merebut kekuasaan yang sah dengan cara yang tidak sah. Atau kudeta, atau makar. Itu perbuatan haram. Tapi menentukan pilihan lewat pilpres, pilkada, ini konstitusional betul. Kenapa tidak?” tuturnya.
Pernyataan Kapitra ini malah bertolak belakang dengan Sekretaris Panitia Pelaksana Maulid Nabi dan Reuni Akbar Alumni 212 Muhammad Al Khatthath.
“Panitia mengadakan Reuni Akbar Alumni 212 bukan dalam konteks politik tertentu,” ujar Al Khatthath di Wisma PHI, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Jumat (1/12/2017).
Al Khattath menegaskan, aksi yang akan berjalan sejak pukul 03.00 WIB hingga 10.00 WIB hanya sebatas bentuk syukur atas bersatunya umat Islam pada aksi 212 tahun lalu.
“Kami mengadakan ini karena bentuk syukur atas kebersatuan umat. Yang tidak mau bersyukur juga tidak apa-apa tidak datang, berdoa saja dari rumah,” kata dia.
Meski begitu, Al Khattath tak melarang beberapa pihak yang menyebut aksi tersebut berbau politik. Bahkan Al Khattath siap jika aksi tersebut bermuatan politik untuk segera dibubarkan.
Perbedaan pernyataan karena perbedaan kepentingan para elite 212 seperti ditunjukkan diatas tentu justru akan membingungkan umat Islam.
Namun apapun alasannya pengumpulan massa untuk mengangkat isu identitas dalam peta perpolitikan Indonesia akan mempersempit hak demokrasi rakyat Indonesia dan dapat membelah masyarakat.
Pengakuan politikus Gerindra sekaligus musisi nasional Ahmad Dhani mengungkapkan hal tersebut. Pentolan grup musik Dewa 19 itu mengakui bahwa aksi 212 setahun silam bermuatan politik.
“Kalau menurut saya, aksi 212 ini bisa dibilang aksi politik, karena Ahok pun menjadi tidak menang. Ini asumsi awam saya, bisa dibilang aksi politik,” ucapnya sebelum meninggalkan panggung aksi Reuni 212 di Mona seperti diungkapnya pada tempo.
Menurut Dhani, aksi tersebut hampir pasti bisa membelah masyarakat. Sebab, aksi 212 sebagai reaksi dari dinamika politik di Jakarta selama dua tahun terakhir. “Kalau saya prediksi, pasti (masyarakat) terbelah. Yang datang ini umat Islam yang tidak bisa didikte oleh penguasa. Yang tidak datang ini yang bisa didikte,” ujarnya.
from RADAR RAKYAT http://ift.tt/2i9tcE9
0 comments:
Posting Komentar