-->

Jonan: ESDM Belum Bisa Pastikan Arah Penyesuaian Harga BBM Tahun Depan



Persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) turun sebesar 3,4 juta barel pekan lalu menjadi 453,7 juta barel, melebihi ekspektasi pasar, kata Badan Informasi Energi AS (EIA) dalam laporan mingguannya, Rabu (29/11).

Pemerintah tengah berupaya menahan penyesuaian “administered prices” untuk menjaga daya beli masyarakat yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Kendati demikian, tren kenaikan harga minyak dunia menjadi tantangan dari kebijakan tersebut.

Pasalnya, harga minyak dunia menjadi salah satu indikator yang mempengaruhi “administered prices” seperti harga bahan bakar minyak (BBM). Berdasarkan harga acuan minyak jenis WTI (West Texas Intermediate) sudah berada di kisaran US$ 57 per barel dan acuan minyak jenis Brent Crude (ICE) tercatat US$ 63 per barel.

Adapun, pemulihan harga minyak dunia diprediksi akan terus berlanjut setelah sebelumnya sempat jatuh di level US$ 30 per barel. Sementara harga BBM penugasan jenis premium dan solar tidak mengalami perubahan sejak April 2016 lalu.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan pihaknya belum bisa memastikan arah kebijakan penyesuaian harga BBM tahun depan.

“Saya harus lapor ke presiden dulu tentang apakah ada penyesuaian naik atau penyesuaian turun. Jadi gak bisa komentar harga BBM terutama per Januari (2018) bagaimana,” ujar Jonan saat ditemui di sela-sela acara “PYC International Energy Conference”, Kamis (30/11).

Pemerintah lanjut Jonan mengatakan tengah meninjau kembali kebijakan harga BBM. Termasuk melibatkan PT Pertamina (Persero) yang bertugas melakukan pengadaan sekaligus distribusi BBM. Tinjauan yang dimaksud, sambung Jonan, mencakup perhitungan biaya dengan mempertimbangkan efisiensi untuk menciptakan harga eceran. Namun dia menyatakan tidak ada perubahan terhadap formulasi perhitungan harga BBM.

“Sekarang ini kita diskusi dengan distributor besar seperti Pertamina tentang harga ecerannya lalu “cost”-nya berapa. Kita lihat efisiensinya seberapa. Karena arahan Bapak Presiden, coba diusahakan semua yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak harganya di samping kompetitif juga harus terjangkau,” jelas Jonan.

Namun demikian, menurut EIA, persediaan bensin dan distilat AS pekan lalu meningkat lebih banyak dari yang diantisipasi. Sementara itu, ketidakpastian tentang perpanjangan pengurangan produksi OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak) juga memberikan tekanan terhadap pasar, karena anggota-anggota memperdebatkan jalan untuk perpanjangan kesepakatan pemotongan pasokan kelompok tersebut.

Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari tahun depan, turun 0,69 dolar AS menjadi menetap di 57,30 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, patokan global, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Januari 2018, turun 0,50 dolar AS menjadi ditutup pada 63,11 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Seperti diketahui OPEC dan produsen-produsen minyak utama lainnya akan bertemu untuk membahas apakah akan memperpanjang pembatasan produksi minyak mentah saat ini guna menopang harga minyak.




from RADAR RAKYAT http://ift.tt/2nnMNWy




Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Warta Seputar Kita


0 comments:

Posting Komentar