PPATK Sebut Teroris Manfaatkan Medsos untuk Merekrut Donatur Baru
Jaringan teroris semakin banyak beralih menggunakan media sosial untuk menggalang dana untuk kegiatan mereka karena mudahnya membuka akun dengan identitas palsu di media sosial.
Dengan mudahnya membuka akun palsu di media sosial, membuat sulit menjejaki pemiliknya. Para teroris berpotensi tinggi menerima dana dalam jumlah besar lewat media sosial.
Mencermati potensi para teroris memanfaatkan pelayanan pengiriman uang yang mendukung aktivitas teroris, Ketua PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin menyebut keompok teroris memanfaatkan media sosial untuk menyapa para donatur, dan merekrut donatur baru.
Ia mengungkapkan bahwa saat ini kelompok teroris mulai memanfaatkan media sosial untuk menggalang dana melalui metode crowdfunding atau penggalangan dana dari masyarakat.
“Dana yang ada sekarang itu, sebagian juga dia peroleh dari media sosial, antara lain melalui crowdfunding. Mereka pasang iklan di media sosial, FB (Facebook). Itu perubahan besar yang terjadi antara 2015 ke 2017,” ujar Kiagus di Pusdiklat PPATK, Tapos, Depok, Kamis (30/11/17).
Kelompok teroris, lanjut Kiagus, kerap membuat acara penggalangan dana yang bisa disalurkan secara langsung atau melalui rekening bank. Kemudian dana yang dikumpulkan lebih banyak digunakan untuk melakukan propaganda, pembelian senjata dan bahan peledak.
Selanjutnya, uang tersebut dikirimkan oleh masyarakat, melalui sejumlah instrumen yang ada, termasuk melalui bank konvensional. Karena jumlahnya berbeda-beda, PPATK, kata Kiagus Ahmad Badaruddin, tidak menetapkan batas bawah untuk mengendus aksi para penebar teror.
“Ada yang seribu (dolar Amerika Serikat), ada yang dibawah seribu (dolar Amerika Serikat), makanya kita tidak melakukan threshold, tidak ada batas, pokoknya berapa pun,” paparnya.
Selain itu Kiagus juga menjelaskan, 1.154 warga Indonesia teridentifikasi menjadi milisi teroris di Suriah. Berdasarkan data ini, otoritas mengetahui potensi pemanfaatan alternatif pengiriman uang dan penyedia jasa penukaran uang asing sebagai penyalur untuk mendukung gerakan teroris.
Kiagus menyebutkan bahwa 45 TKI di Hong Kong teridentifikasi sebagai pendukung ISIS. Mereka juga menggunakan jaringan media sosial untuk mengirimkan dukungan dana kepada kelompok-kelompok teroris.
“Jumlah mereka ini terlihat kecil dengan mempertimbangkan fakta bahwa lebih dari 500 ribu pekerja migran Indonesia bekerja di Hong Kong, Taiwan, dan Singapura, namun radikalisasi para pekerja domestik Indonesia dan perawat yang bekerja di Asia Timur merupakan sebuah peringatan,” ujar Kiagus.
Sebelumnya, PPATK bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah menyelesaikan buku putih mengenai pemetaan risiko tindak pidana pendanaan terorisme terkait jaringan domestik yang terafiliasi dengan kelompok Islamic State of Iraq and Syria atau ISIS.
Kepala BNPT Suhardi Alius mengatakan, pembuatan buku putih atau white paper tersebut bertujuan sebagai pedoman bagi seluruh kementerian/lembaga yang terkait pemberantasan terorisme, seperti Densus 88 Anti-Teror dan Badan Intelijen Negara (BIN).
from RADAR RAKYAT http://ift.tt/2ABx2Rf
0 comments:
Posting Komentar